Kondisi mercu atau pembendung air di Kolong Pumpung, Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan, dilaporkan tidak berfungsi optimal dan dikhawatirkan mengancam pasokan air bagi lahan pertanian di sekitarnya.

Ironisnya, infrastruktur yang merupakan bagian dari proyek rehabilitasi jaringan irigasi dibangun tahun 2025 senilai sekitar Rp15-18 miliar itu justru dinilai belum mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai pengatur distribusi air.

Alih-alih berfungsi, warga terpaksa bertindak sendiri. Mereka menjejerkan karung sebagai pembendung sementara agar muka air naik dan dapat mengalir ke saluran irigasi.

“Upaya tersebut bertujuan menaikkan muka air agar bisa masuk ke saluran irigasi,” kata salah seorang warga petani di lokasi.

Sejumlah aduan masyarakat, termasuk dari kelompok gabungan tani (Gapoktan), telah disampaikan kepada Anggota DPRD Bangka Belitung, Rina Tarol, termasuk keruhnya air akibat tambang di hulu sungai.

Melihat langsung keluhan warga itu, Rina Tarol menyebut kondisi tersebut berpotensi menyebabkan sawah kekurangan air hingga mengalami kekeringan.

Ia menilai kegagalan fungsi mercu mencerminkan lemahnya perencanaan dan pelaksanaan proyek. Infrastruktur yang seharusnya mengatur distribusi air justru dinilai gagal menjalankan perannya.

“Kegagalan fungsi mercu terlihat jelas dari langkah warga yang terpaksa melakukan perbaikan darurat dengan menjejerkan karung di aliran air,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

“Dikerjakan asal jadi, bukan memberikan manfaat, malah semakin kurang berfungsi,” kata Rina.

Rina menilai hal itu menunjukkan mercu permanen tidak mampu menaikkan level air sesuai kebutuhan distribusi. Akibatnya, air terbuang percuma dan tidak mengalir optimal ke lahan pertanian.

Ia menyingung kurangnya perencanaan yang matang. Permasalahan itu, ungkap dia, diduga berkaitan dengan ketidaksesuaian ketinggian konstruksi, sehingga air tidak tertahan pada level yang dibutuhkan untuk dialirkan ke jaringan irigasi.

Ia tak menampik kondisi itu mencerminkan buruknya kualitas perencanaan hingga pekerjaan. Alih-alih memberikan manfaat, kaya dia, infrastruktur justru dinilai tidak berfungsi maksimal sehingga air terbuang dan tidak mengalir ke saluran pertanian.

“Masyarakat disebut berencana melakukan pengecoran beton secara mandiri demi memastikan aliran air bisa dimanfaatkan,” kata dia.

Rina menilai hasil pembangunan tidak sebanding dengan manfaat yang diterima masyarakat. Ia mendorong aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

“Kita mendorong pihak Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung untuk turun. Nilai pekerjaan ini Rp15-18 miliar dan baru dibangun tahun 2025, tapi hasilnya begini,” tegas dia.